Merangkai Narasi Desa Wisata | Desa Wisata

Hallo, apa kabar?, sesi kali ini akan membawa pembahasan mengenai desa wisata Merangkai Narasi Desa Wisata simak selengkapnya
Minggu 06 Desember 2020, 01:35 WIB
DALAM menjalani abad perkuliahan di semester ini, Putu Martha Rindani harusnya mendapat tugas buat mempromosikan sebesar destinasi pariwisata yang siap di sekitar Yogyakarta. Namun, lantaran abad kuliah jua bertepatan dengan endemi covid-19 yang membukankan kelas tatap muka, dia memutuskan buat mudik ke Bali.
Martha, ya dia akrab disapa, diperbolehkan mengerjakan tugas dari rumah. Demi menyelesaikan tugas alat penglihat kuliah, dia kemudian memilih buat mempromosikan energi desa wisata Jatiluwih yang terwalak di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.
Sementara itu, kawan sekelasnya, Sherina Shinta Dewi, jua memilih objek wisata yang berdekatan dengan tempat tinggal Sherina, ialah Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Baik Martha atau Sherina menggunakan formula storynomic dalam mengemas promosi kedua destinasi pariwisata tersebut. Formula itu atas dasarnya menginterpretasikan suatu tempat dalam aliran narasi penceritaan dan konten kreatif, termasuk dalam wujud digital, sesuai kultur setempat. Dengan storynomic, bukan keindahan suatu tempat semata yang hendak dijadikan komoditas ekonomi, melainkan jua cerita sejarah atau budaya yang bersemayam di tempat tersebut.
Hasil karya Sherina dan Martha kemudian ditampilkan dalam pameran daring. Ketua penyelenggara pameran daftar bertajuk ‘Storynomic Desa Wisata: Pameran Kewirausahaan’ ini, Vianda Ardy Fernando, bercerita pameran tersebut sebenarnya sudah menjadi agenda tahunan Himpunan Mahasiswa Arsitektur (Hima Tricaka), Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. Akan tetapi, berlainan dengan tahun sebelumnya, kali ini pameran digelar secara daring.
“Tujuannya ialah embuh membangkitkan kembali ekonomi dari bagian pariwisata. Dengan melihat abad endemi beberapa waktu belakangan ini, agaknya alpa satu yang palingterdampak ialah desa wisata. Kami bersama guru besar pengampu kemudian berusaha membuat pameran sekaligus promosi biar masyarakat lebih memahami lagi desa-desa yang selama ini sudah dikenal sebagai desa wisata,” tuturnya lewat aplikasi konferensi daring, Selasa, (1/12).
Nando, sapaannya, mempresentasikan pemeran digelar selama enam hari mulai 24 engat 29 November. Ada 30 karya yang dipamerkan apik dalam aliran poster dan video naratif. Tim jua menyediakan hadiah buat meningkatkan antusiasme pengunjung pameran. Uang sebesar Rp500 ribu diberikan kepada mereka yang memberikan rating dan komentar terbaik.
Dengan melihat karya yang dihasilkan mahasiswa, Nando mengatakan musim endemi ini rupanya benar menduga membuat banyak desa wisata menjadi terpuruk. Masalah elementer di beragam daerah absolut sama, yakni menurunnya kuantitas pengunjung, yang kemudian memengaruhi omzet atau pendapatan desa wisata tersebut.
Nando atas kesempatan ini turut membuat storynomic. Ia mencoba mengangkat Desa Sambirejo, di Kecamatan Prambanan, Sleman. Sebagai desa wisata, kelurahan Sambirejo memiliki sebesar pergelaran seperti Tebing Breksi di desa Lengkong, atau Candi Ijo di desa Kikis, selain siap jua Watu Langit.
“Memang sebelum pandemi, tempattempat ini banyak ramai, terutama di Tebing Breksi karena siap persil terbuka buat pergelaran beragam acara. Tiap minggu siap konser, event besar atau kecil, melainkan selama endemi ini sudah tidak ada. Penyewaan tenda dan lain-lain jua berkurang karena tempat ini terkenal buat melihat sunrise. Selain itu, beker kunjungnya juga berkurang. Kalau dulu bisa 24 jam, masa ini hanya sampai beker 9 malam,” ganduh Nando.
Mahasiswa lain yang turut membawa desa wisata di Yogyakarta ialah Maria Rosari Wijayanti. Dalam storynomic-nya, mahasiswa yang akrab disapa Oca ini berikhtiar membawa desa wisata Bendung Lepen, yang terwalak di belakang Terminal Giwangan, atau lebih tepatnya di batas Sungai Gajah Wong.
Oca mengatakan desa wisata ini cukup mudah dijangkau karena masih siap di Kota Yogyakarta. Dalam storynomic yang dia buat, kemudahan akses tersebut jua ditawarkan khususnya bagi masyarakat yang embuh berwisata, melainkan tidak embuh pergi ke tempat yang jauh.
“Menurut pengelola di sana, desa ini dulu sebenarnya hampir sama dengan kampung di pinggir kali atas umumnya. Akan tetapi, yang menjadi daya tarik masa ini ini ialah kebersihan, tidak lagi kumuh atau kotor. Karang taruna di sana mulai 2018 berikhtiar menginisiasi metamorfosis sehingga kampung ini menjadi bersih, memiliki lanskap yang banyak bagus, friendly, dan juga bisa menjadi percontohan dan edukasi alam dengan saluran pengasingan yang bersih, justru bisa buat memelihara ikan,” kata Oca.
Pengalaman
Memiliki pengalaman terjun langsung ke lapangan, memberikan kesempatan bagi Oca buat berguru membuat klasifikasi dari barang yang didapat selama kuliah. Ia mengaku semakin dapat melihat desa wisata secara menyeluruh, mulai aspek budaya, sosial, lingkungan, engat ekonomi.
Dalam proses identifikasi dia turut melihat, misalnya, budaya ‘srawung’ atau berkumpul. Pada aspek sosial ekonomi, dia jua bisa melihat fenomena ibu-ibu yang dulunya hanya jadi ibu rumah tangga, tapi kini dapat memperoleh penghasilan dari berjualan di area wisata.
“Lalu dari aspek alam kita bisa melihat energi seperti bahar dan perikanan sehingga bisa menjadi daya tarik baru dari beragam macam hal yang sudah kita kelompokan,” katanya.
Sementara itu, Nando, dari pengalaman ini merasa lebih tahu bagaimana caranya melenggekkan rancangan bisnis, mulai rancangan pendanaan engat bagaimana caranya menarik tamu dengan pergelaran tambahan.
“Kita seperti didorong buat lebih peka. Bukan hanya melihat, oh ini keuntungan besar berarti desa wisata itu dibilang sukses, tidak sekedar itu, tapi jua melihat potensinya apa, barang apa yang dibutuhkan, jadi kita layak peka dengan masyarakat dan pelestarian alam dan budaya atau gaya berjiwa masyarakat di sana,” ganduh Sherina.
Lain halnya dengan Martha, dia merasa Jatiluwih sebenarnya sudah cukup terkenal sebagai desa wisata. Meski begitu, dia jua belajar bagaimana kaidah membawa kembali esensi atau inti dari desa itu sendiri atau dalam hal ini bertih merah.
“Kalau masa ini orang ke sana mungkin hanya melihat pemandangannya, melihat sawahnya, melainkan produk berasnya agaknya belum terlalu dieksplor. Maka dari itu kita coba angkat berasnya biar penghasilan yang didapat masyarakat tidak hanya dari bagian pariwisata tapi jua produknya,” pungkas Martha. (M-2)
Sekian pembahasan tentang Merangkai Narasi Desa Wisata semoga tulisan ini berfaedah terima kasih
Artikel ini diposting pada kategori desa wisata, desa wisata malasari, desa wisata tmii, , tanggal 14-07-2021, di kutip dari https://mediaindonesia.com/weekend/366672/merangkai-narasi-desa-wisata
Komentar
Posting Komentar